Monthly Archives: September 2008

Rectoverso

Standard

Dengar fiksinya….Baca musiknya

Akhirnya Dee hadir dengan karyanya yang terbaru. Ada yang berbeda dengan karyanya kali ini, kali ini karyanya menyentuh hati dari dua sisi. Sisi fiksi yang begitu menyentuh dan sisi musik yang disajikan dengan begitu indah. Tidak peduli mana yang lahir lebih dulu, apa fiksinya atau musiknya, satu yang pasti keduanya begitu menyatu seperti bernyanyi saat membaca fiksinya dan seperti membaca saat mendengar musiknya.

Rectoverso;

Terdiri dari 11 kisah sederhana yang disajikan dengan bahasa khas Dewi ‘dee’ Lestari yang bisa mengungkapkan apa yang tak selalu bisa diungkapkan. Dilengkapi dengan 11 lagu yang menyentuh baik dari segi musik ataupun lirik. Dua imaji yang seolah berdiri sendiri tapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. 11 kisah berbeda yang menyentuh hati dari sudut yang berbeda. Dari kesebelas kisah, Back to Heaven’s light yang jadi juaranya…

Curhat buat sahabat;

“…Untuk diam, duduk ditempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air ditangannya, kala kuterbaring…sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu Dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku
..”

Tidak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam..

Malaikat Juga Tahu;

“…Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang,tak rupawan,
Namun kasih ini, silahkan kau adu
Malaikat juga tahu
Aku kan jadi juaranya
..”

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang..

Selamat Ulang Tahun;

…Tahanlah, Wahai Waktu
Ada “Selamat Ulang Tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga
Menantiku..

Aku tak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selulr ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan, lalu keasyikan terbenam atau terlambat  terbit? Bahkan kiamat pun hanya berbicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal..

Aku Ada;

“…Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Kuterus berjalan
Kuterus melangkah
Kuingin kutahu
Engkau ada
…”

Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu..

Hanya Isyarat;

“…Kucoba semua segala cara
Kau membelakangiku
Kunikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu…

Aku sampai dibagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggunya saja. Seseorang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan..

Peluk;

“…Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera
..”

Rasakan semua demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening, Apa adanya..

Grow a Day Older

“..When she tries to write a birthday song
When she thinks so hard to make your day
When she’s getting lost in all her thoughts
When she wait a whole day to say:
“I,m thankful for this moment cause I know that I Grow a day older and see how this sentimental fool can be
…”

When  I was in complete surrender of who I am, the helpless idiot venturing her endless lessons of love and life. When I was thankful that he would grow a day older and see what a mess I could be. And I can feel I am arriving in that moment again, right now,as I cuddle Teddy, and still not knowing what to do or what to decide..

Cicak di Dinding;

“…Dan satu kejujuran ku
Ku ingin jadi cicak didindingmu
Hanya suara dan tatap ku… menemanimu
…”

Lelaki itu kemudian mulai melukis, sampai lewat tengah malam, hingga tertidur lelah di lantai studio. Namun ada kelegaan luar biasa yang tak bisa ditakarnya, melampaui kemampuan rangkum nada atau kata, surat cinta atau kidung cinta, bahkan rencana sehidup semati..

Firasat;

“…Cepat pulang..
Cepat kembali jangan pergi lagi
Firasat ku ingin kau tuk cepat pulang
cepat kembali jangan pergi lagi
..”

Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah kemana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi..

Tidur;

“..Tak perlu kau bangun dari tidurmu
Tak usah bersuara menyambutku
Ku cukup bahagia berada disini
Disisimu, memandangmu,
Tanpa perlu kau tahu
..”

Terlalu lama kita hidup menjadi bayang-bayang bagi satu sama lain. Biarkan aku mendekati kalian dengan perlahan, sampai pagi terbit bagi kita bersama. Tak ada lagi bayangan. Kita lebur dalam kenyataan..

Back To Heaven’s Light;

“..And now, it’s so dreamlike I hear you telling me
It’s been such a perfect grace; it’s been such a perfect place
To be in my heart at last, and have angels singing you a song
As you see the tears are falling from my eyes
When you say I am your paradise
You smile and ask me I am your paradise
You smile and ask me: Why I have to cry?..”

If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been illusion of a journey for it didn’t have a start and didn’t have an end..

Rectoverso bener-bener pengalaman baru dalam berkisah. Seperti merasakan sebelas cerita sederhana dengan dua imajinasi yang berbeda. (sayang saya belum baca “Perahu Kertas” yang juga karya Dewi ‘dee’ Lestari, padahal novel ini lebih dulu muncul daripada Rectoverso)

*diambil dari penggalan kisah dan musik rectoverso

pic diambil dari sini